Probolinggo, 21 November 2025 — Tiga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, yakni Dr. Lukman Fahmi, S.Ag., M.Pd., Dra. Faizah Noer Laela, M.Si., dan Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., S.Pd., M.Pd., Kons., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Pesantren Inklusi Sabilillah Probolinggo dengan judul “Penguatan Dukungan Keluarga Santri dengan Gangguan Perkembangan melalui Bimbingan Spiritual dan Psikoedukasi di Pesantren Inklusi Sabilillah Probolinggo.”
Menyapa Santri Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Inklusif
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran keluarga dan pengasuh santri berkebutuhan khusus melalui pendekatan spiritual dan psikoedukatif. Pesantren Sabilillah dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam inklusif di Jawa Timur yang menampung santri dengan berbagai kondisi perkembangan, seperti autisme, ADHD, dan kesulitan belajar.
Dr. Lukman Fahmi menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran krusial dalam keberhasilan perkembangan dan adaptasi sosial santri dengan kebutuhan khusus.
“Pesantren inklusi tidak hanya memerlukan metode pembelajaran yang adaptif, tetapi juga dukungan keluarga yang memahami dinamika psikologis anak. Karena itu, pendekatan spiritual dan psikoedukasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Bimbingan Spiritual dan Psikoedukasi Keluarga
Dalam program ini, tim dosen UIN Sunan Ampel memberikan pelatihan psikoedukasi bagi keluarga dan pengasuh santri, disertai bimbingan spiritual yang berfokus pada penerimaan, kesabaran, dan penguatan makna ibadah dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus.
Dra. Faizah Noer Laela menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membangun kesadaran dan keterampilan praktis keluarga dalam menghadapi tantangan emosional dan sosial.
“Kami ingin keluarga santri mampu memahami perkembangan anak dengan hati yang tenang dan ilmu yang cukup, bukan hanya dengan rasa kasihan,” jelasnya.
Kolaborasi Pesantren dan Akademisi
Dr. Arif Ainur Rofiq menambahkan bahwa pesantren inklusi dapat menjadi model pembinaan yang menyatukan nilai keislaman, pendidikan karakter, dan intervensi psikologis.
“Kami melihat potensi besar pesantren untuk menjadi pusat pembinaan spiritual yang ramah disabilitas. Melalui sinergi antara ilmu psikologi dan nilai keislaman, kita bisa mewujudkan pesantren yang benar-benar inklusif,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian ini mencakup sesi psikoedukatif untuk keluarga, simulasi praktik komunikasi empatik, ceramah spiritual interaktif, dan evaluasi bersama pengasuh pesantren.
Dampak dan Harapan
Pihak Pesantren Sabilillah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif UIN Sunan Ampel ini. Program ini dinilai mampu memperluas wawasan para orang tua dan pengasuh tentang pentingnya dukungan emosional dan spiritual bagi anak dengan gangguan perkembangan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen UIN Sunan Ampel Surabaya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian masyarakat yang berbasis riset dan pemberdayaan sosial.


No responses yet